Gereja Blenduk Semarang merupakan gereja yang dibangun
pada 1753 ini merupakan salah satu landmark di kota lama. Berbeda dari
bangunan lain di Kota Lama yang pada umumnya memagari jalan dan tidak
menonjolkan bentuk, gedung yang bergaya Neo-Klasik ini justru tampil
kontras. Bentuknya lebih menonjol . Lokasi bangunan ini berada di Jalan
Letjend Suprapto No 32 Kota Lama Semarang dan bernama Gereja GBIB
Immanuel. Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup
dengan facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian.
Jumlah lantainya adalah dua buah. Bangunan ini menghadap ke Selatan.
Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan
facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Bangunan
ini menghadap ke Selatan. Lantai bangunan hampir sama tinggi dengan
jalan di depannya. Pondasi yang digunakan terbuat dari batu dan sistem
strukturnya dari bata. Dinding terbuat dari bata setebal satu batu. Atap
bangunan berbentuk kubah dengan penutupnya lapisan logam yang dibentuk
oleh usuk kayu jati. Di bawah pengakiran kubah terdapat lubang cahaya
yang menyinari ruang dalam yang luas.
Pada sisi bangunan, Timur, Selatan dan Barat terdapat portico bergaya Dorik Romawi yang beratap pelana. Gereja
ini memiliki dua buah Menara dikiri kanan Yang denahnya dasar
berbentuk bujur sangkat tetapi pada lapisan paling atas berbentuk
bundar. Menara ini beratap kubah kecil. Cornice yang ada disekililing
bangunan berbentuk garis-garis mendatar.
Pintu masuk merupakan
pintu ganda dari panel kayu. Ambang atas pintu berbentuk lengkung.
Demikian pula halnya dengan ambang atas jendela, yang berbentuk busur.
Tipe jendela ada dua kelompok. Pertama, jendela ganda berdaun krepyak,
sedangkan yang kedua merupakan jendela kaca warna-warni berbingkai.
Bangunan yang terkait di sekitar Gereja Blenduk
adalah Gedung Jiwasraya yang terletak di sebelah Selatan, kantor Kerta
Niaga di sebelah Barat, ruang terbuka bekas Parade Plein di sebelah
Timurnya.
Gereja Blenduk
sudah berganti rupa beberapa kali. Mula-mula Gereja di bangun pada
tahun 1753, berbentuk rumah panggung Jawa, dengan atap yang sesuai
dengan arsitektur Jawa. Hal ini dapat dilihat pada peta kota Semarang
tahun 1756 yang menunjukkan konfigurasi massa yang berbeda dari
sekarang. Pada tahun 1787 rumah panggung ini dirombak total.
Tujuh
tahun berikutnya diadakan kembali perubahan. Pada tahun 1894, gedung
ini dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas dengan bentuk
seperti sekarang ini. Yaitu dengan dua menara dan atap kubah. Keterangan
mengenai Wilde dan Wetmas tertulis pada kolom di belakang mimbar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar